This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 11 Mei 2013

LIRIK LAGU JKT48 - SONICHI


Aku berdiri di atas
Panggung yang selalu ku dambakan
Di tengah eluan
Tepuk tangan dan juga semangat

Dengan latihan yang ketat
Ku lampaui dinding diriku
Sambut hari ini
Tirai kesempatan pun terbuka

Aku pun tidak menari sendiri
Ada hari ku nangis di jalan pulang
Aku bernyanyi tanpa berpikir
Ada hariku hilang percaya diri
Selalu sainganku terlihat seolah bersinar

Impian ada di tengah peluh
Bagai bunga yang mekar secara perlahan
Usaha keras itu tak akan mengkhianati

Impian ada di tengah peluh
Selalu menunggu agar ia menguncup
Suatu hari pasti sampai harapan terkabul

Lampu sorot yang ternyata
Begitu terang seperti ini
Bagai malam panjang
Menjadi fajar mentari pagi

Sudah pasti aku tidak
Mau kalah dari kakak kelasku
Kami ingin buat
Show diri kami sendiri
Ada hariku menangis sedih
Saat ku libur karena ku cedera
Ada hariku sudah menyerah
Imbangi sekolah beserta latihan
Tapiku mendengar encore dari suatu tempat

Impian setelah air mata
Bunga senyuman setelah tangis berhenti
Wujudkan terus usaha keras pun akan mekar

Impian setelah air mata
Ku percaya takkan kalah dari angin hujan
Sampai doaku mencapai langit cerah

Penuh semangat mari menari
Penuh semangat mari bernyanyi
Tanpa lupakan tujuan awal
Kerahkan seluruh tenaga ooh

Impian ada di tengah peluh
Bagai bunga yang mekar secara perlahan
Usaha keras itu tak akan mengkhianati

Impian ada di tengah peluh
Selalu menunggu agar ia menguncup
Suatu hari pasti sampai harapan terkabul

LIRIK LAGU JKT48 - OOGOE DIAMOND


Berlari aku mengejar bis itu
Ku ingin ungkapkan kepada dirimu
Kabut dalam hatiku telah menghilang
Dan ku melihat hal yang penting bagiku

Walaupun jawabannya begitu mudah
Tetapi entah mengapa terlewatkan olehku
Untukku menjadi diriku sendiri
Ku harus jujur, terhadap perasaanku

Ku suka, dirimu ku suka
Ku berlari sekuat tenaga
Ku suka, selalu ku suka
Ku teriak sebisa suaraku

Ku suka, dirimu ku suka
Walau susah untukku bernapas
Tak akan ku sembunyikan
Oogoe daiyamondo

ketika kusadari sesuatu yang hilang
Hatiku pun resah tak bisa menahan
Sekarang juga yang bisa ku lakukan
Merubah perasaan ke dalam kata kata

Mengapa sejak tadi aku hanya menatap langit
Mataku berkaca kaca, berlinang tak terhenti
Ditempat kita tinggal, didunia ini
Penuh dengan cinta kepada seseorang

Ku yakin, ohh ku yakin
Kan bisa lepas dirimu lagi
Ku yakin, ohh ku yakin
Akhirnya kita bisa bertemu

Ku yakin, ohh ku yakin
Ku akan bahagiakan dirimu
Ku ingin kau mendengarkan
Oogoe daiyamondo

Jika jika kamu ragu, takkan bisa memulai apapun
Ungkapkan perasaanmu, jujurlah dari sekarang juga
Jika kau bersuara…
Cahaya kan bersinar

Ku suka, dirimu ku suka
Ku berlari sekuat tenaga
Ku suka, selalu ku suka
Ku teriak sebisa suaraku

Ku suka, dirimu ku suka
Sampaikan rasa sayangku ini
Ku suka, selalu ku suka
Ku teriakkan ditengah angin

Ku suka, dirimu ku suka
Walau susah untuk ku bernapas
Tak akan ku sembunyikan
Oogoe daiyamondo

Katakan mari dengani berani
Jika kau diam kan tetap sama
Janganlah kau merasa malu
“Suka” itu kata paling hebat!
“Suka” itu kata paling hebat!
“Suka” itu kata paling hebat!
Ungkapkan perasaanmu, jujurlah dari sekarang juga

LIRIK LAGU JKT48 - HISSATSU TELEPORT


Jump! Jump! Jump! Jump!
Lawanlah daya tarik dari cinta (Jump Jump Jump)
Hatiku sedikit saja layangkanlah (Jump Jump Jump)
Terbangkanlah orang yang kusuka

Tolonglah teleport
Tolonglah teleport
Hissatsu teleport

Jalan sekolah di pagi hari
Kalian yang di depanku (hey boys)
Good Morning aku ucapkan
Aku agak dicuekkin (masa sih)

Aaah jika semua melihat (uuuh)
Laki-laki itu pemalu
Selalu pasang tatapan keren (uuuh)

Hingga di angkasa sana
Di kejauhan pertemuan antara kita berdua
Tempat yang tak ada siapapun
Hissatsu telepo-orto

Tolonglah teleport
Tolonglah teleport
Hissatsu teleport

Walau kucoba melewatimu
Kau tampak tidak tertarik (oh ya)
Kau pun berpaling dan berbicara
Ayo lihat ke sini (lihat ke sini)

Ah jika saja aku bisa (bibibibibi)
Memakai satu kekuatan (hoii)
Dalam sekejap kau akan kuhapus

Dirimu yang selama ini ada di situ
Mengapa hanya dalam sesaat
Ke tempat diriku berada
Hissatsu telepo-orto

Hingga di angkasa sana
Di kejauhan pertemuan antara kita berdua
Tempat yang tak ada siapapun
Hissatsu telepo-orto

(Puruppupparurudaddaddaddira)

Lawanlah daya tarik dari cinta
Jump! Jump! Jump!
Hatiku sedikit saja layangkanlah
Jump! Jump! Jump!
Terbangkanlah orang yang kusuka

Melanggar peraturan dari cinta
Jump! Jump! Jump!
Tak perlu pilih cara dapatkanlah
Jump! Jump! Jump!
Kudapatkan orang yang kusuka
Jump! Jump! Jump!

PAHLAWAN SEPULUH SENTIMETER

#sebuah cerpen

         Hujan. Jam setengah satu siang hari Jumat hujan dan aku lagi galau sendiri di depan kelas. Tak tentu apa yang kupikirkan. Masih bingung. Kelas masih berantakan, mading belum selesai. Padahal penilaiannya besok. Kelas 8.7 emang kelas yang paling lelet. Paling males sama yang namanya “Penilaian Kelas”. Kebersihan, dinilai. Kelengkapan, dinilai. Mading? So pasti! Tidak semua anak lembur mading dan bersih – bersih kelas hari ini. Hanya sebagian. Namanya juga habis Class meeting, capek kan? Sebagian dari mereka pulang dengan beragam alasan. Ada yang capek lah, ngerjain tugas lah. Ahh.. biarlah. Yang penting masih ada makhluk hidup tersisa di sini.
          Lama banget anak putra sholat Jumatnya. Di sini cuma ada aku, Fia, Inda, Fitri, Tiwi, Eni, dan Ana. Nunggu yang putra sambil dengerin Eni sama Ana nyanyi “Ayah” plus diramein sama suara percikan air hujan yang jatuh di atas murninya coklat tanah Tuhan. Jam 1 siang, semua makhluk hidup yang tersisa sudah berkumpul. Yang putra cuma tiga. Fian, Ari, sama Tofa. Anak cowok sama Fia buat bunga dari kertas sebagai persembahan besok. Yang lain bersihin kelas.
          “Eh, gimana kalau kelas besok kita kasih apa gitu yang bisa buat kelas kita lebih hidup” usul Eni.
          “Hidup? Emang punya nyawa?” candaku.
          “Ya enggak gitu, Yola. Maksud Eni itu ya kita kasih bunga, apa yang lain gitu biar kelasnya lebih cantik!” panjang lebar penjelasan dari Ana. Serius.
          “Bunga? Tuh, di kelas 8.2” aku males serius kali ini.
          “Ya Tuhan.. tanaman, Yola cantik…” rayu Fitri.
          Cantik? Serius tuh? Pipiku merah dibilang aku cantik. “Oh.. tanaman to? Bilang donk dari tadi!” aku mulai agak senyum dibilang cantik.
          “Iiih.. Yola. Dibilang cantik baru nyantol” ucap Eni sinis.
          Aku meringis di depan mereka.
          Suasana hening seketika. Musik “Zunea - Zunea” oleh Cleopatra Stratan yang tadinya memenuhi sudut ruangan sudah selesai diputar.
          “Gimana kalau aku bawain aja? Di rumahku banyak. Tapi kecil – kecil sih.. hehe” aku mulai mengangkat bicara. Tapi lirih.
          “Kecil? Pas banget!!” suara Eni cetar dan terpampang nyata banget. Menggelegar sampai mana – mana. Seolah – olah semua penghuni planet di Milky Way harus tau kalau apa yang kukatakan tadi sependapat sama pemikiran Eni.
          “Ya Tuhan.. pelan aja Enii, sayang” Fitri nggombal.
          “Terus kenapa kalau kecil?” sahutku.
          “Gue harus ngrubah nama Jokowi jadi JokoWOW gitu?” Ana gila.
          “Ana, itu nggak perlu, nggak usah, dan nggak penting! Ya dibawa lah, Yolaaa..” jawab Eni sinis. Lagi.
          “Aku harus bawa berapa? Dikit? Banyak? Pas pasan? Apa banyak banget?” pertanyaanku berjejer panjang bagai kereta.
          “Buat apa banyak – banyak? Satu aja cukup kok, La. Iya nggak, En?” tanya Tiwi kepada Eni.
          “Iya, satu ajalah, La”
          Bersih – bersih kelas sudah selesai. Mading? Tinggal ngasih artikel. Sekarang mari kita tengok bunga kertas anak putra.
          “Gimana? Udah selesai?” tanyaku ke mereka.
          “Udah, kok. Tinggal dikit” jawab Fia singkat.
          “La, aku laper. Beli makan gih sana..” suara Ari lemas kelaparan.
          “Iya, aku juga” kata Inda menyusul.
          “Ya udah, deh. Nih uangnya kalian beli terserahlah apa. Yang penting bisa bikin kenyang. Mumpung hujan agak reda. Beli cepet gih sana.. keburu hujan lagi” kataku ke Ana sambil nyodorin kertas warna biru. 50.000.
          “Oke. Beli yok!” ajak Ana.
          “Ayok!” jawab yang lain serempak.
          Di situ yang cewek cuma aku sama Fia.
          “Ini serius dikasih langsung ke walinya sendiri – sendiri?” aku angkat bicara.
          “He? Gila! Enggak mau aku!” jawab Tofa 100% nolak!
          “Iya, nggak setuju aku. Apaan tuh? Enggak.. enggak.. malu!” jawab Fian sependapat dengan Tofa.
          “Haa.. nggak setuju banget aku sama yang begituan!” cowok terakhir ini sama sependapat dengan cowok dua yang awal. Ari.
          “Iya, deh.. nggak jadi” jawab Fia mendesah menyerah.
          Aku hanya bisa melepas nafas panjang dan menghirup aroma wangi air hujan. Sambil nunggu makanan, aku bantu anak – anak yang lain nerusin bunga kertas. Lama banget mereka.
          “Eh, iyaa. Eni tadi usul kalau kelas kita dikasih tanaman besok. Tapi kecil. Setuju nggak?” ucapku sambil sedikit ngrayu.
          “Aku setuju banget!” jawab Fia tegas.
          “Ngikut..” Ari, Tofa, Fian menjawab serempak tapi lemas.
          Hening lagi. I hate this moment!
          “Mana tuh anak? Lama bener” rintih Ari yang lagi kelaparan.
          Tak lama setelah itu, datanglah gerombolan itu. “Alhamdulillah.. akhirnya!” batinku dalam hati.
          Makan selesai. Time for home!
***
          Paginya aku sampai sekolah agak siang. Kulihat kelas. Jauh lebih baik dari kemarin. Aku berangkat dengan menenteng sebuah tas kresek berisi tanaman kecil yang tingginya kurang lebih hanya 10 cm. Kuletakkan di atas meja guru. Terlihat lebih cantik. Sempurna.
          Aku jadi MC di upacara penyerahan penghargaan hari ini. Sekaligus penentuan Kelas Terbersih dan Terlengkap, serta mading terbaik. Mimpi kali kelasku dapat penghargaan itu.
          Ternyata bukan mimpi belaka. Memang, madingku bukan yang terbaik. Tapi, untuk golongan kelas 8 kelasku menjadi yang terbersih dan terlengkap. Aku menganga? Ha? Mimpi ya? Kelas ancur nggak karuan jadi yang terbaik? Yang lain kaya apa?
          Dalam pidatonya, Bapak Kepala Sekolah menyampaikan ciri – ciri dari masing – masing kelas terbersih dan terlengkap.
          “… untuk kelas 8.7 yang membuat lebih istimewa adalah perbedaannya dengan kelas yang lain. Mereka ini sadar kalau sekolah kita adalah adiwiyata. Apa yang membuatnya berbeda? Mereka memberi kelas mereka tanaman walau hanya kecil. Hanya sekitar 10 cm. Ya, memang kecil. Tapi sangat berarti! Tepuk tangan..”
          Itulah hari terbaik sementara dalam kelasku. Jadi kelas terbersih. Persembahan hari itu juga alhamdulillah lancar. Wali kelasku terlihat bangga jika dilihat dari pancaran senyum yang dipersembahkan beliau kepada kita. Ya Tuhan.. terimakasih telah melahirkan si “hijau mungil” itu. Kami berjanji akan menjaga hijau amanah – Mu itu.
          Aku memetik pesan berharga dari kenangan manis itu. Betapa baiknya pohon itu walau satu tapi berarti. Walau kecil tapi penuh bakti. Walau sepuluh senti, tapi dialah pahlawan sejati. Terimakasih hijau suci! ***

Senin, 06 Mei 2013

LIRIK LAGU JKT48 – GOMEN NE SUMMER


Dirimu duduk memeluk lutut
Di pinggiran geladak
Menghitung banyaknya ombak
Datang mendekat

Diriku ada di sampingmu
Seakan mau mengganggu
Saat sengaja ajak bicara
Kau memukul bahuku

Laut yang sangatlah biru
Menyerupai kasih sayang
Yang mengajari, suatu arti
Dari keabadian

Maafkan summer menyilaukan
Saat tatap wajahmu dari samping
Dalam hatiku ingin menyentuhmu lembut
Keisenganku saja

Maafkan summer cinta ini
Meskipun hanya teman terasa sedih
Hanya angin laut yang sejak dari dulu
Bertiup menujumu
Maafkan summer

Burung layang-layang putih
Mengelilingi langit
Seperti memanasi
Ayo cepat katakan

Akupun diseling bercanda
Melepas sepatu sneakers
Seketika lari sekuat tenaga
Bagai melarikan diri

Bersama habisnya nafas
Debaran ini menyakitkan
Walau kuhitung deburan ombak
Tak akan ada habisnya

Tetaplah summer kita berdua
Disinari cerahnya matahari
Perasaanku ini akan terus berlanjut
Apapun yang terjadi

Tetaplah summer lebih jauh
Menuju cakrawala ujung sana
Aku pun sendirian menapak langkah kaki
Tak mampu bilang suka
Tetaplah summer

Pasir pantai putih bersih
Seperti perasaan jujur
Yang memaksaku tuk minta maaf
Sayang yang terlalu dalam

Maafkan summer menyilaukan
Saat tatap wajahmu dari samping
Dalam hatiku ingin menyentuhmu lembut
Keisenganku saja

Maafkan summer cinta ini
Meskipun hanya teman terasa sedih
Hanya angin laut yang sejak dari dulu
Bertiup menujumu
Maafkan summer

LIRIK LAGU JKT48 - BABY, BABY, BABY !


I Love you baby baby baby, alihkanlah padaku
Pandangan kepada seseorang itu
Sadarilah ketukan dari diriku
Ku ingin jawaban dari rasa sayang

I Love you baby baby baby, tersenyumlah padaku
Bibir yang membuatku menjadi terpikat
Biarkanlah ku miliki dirimu walau hanya di dalam mimpi

Sebelum ku kecup aku terbangun, kelanjutannya masih tertahan
Selalu di saat-saat yang seru,
hanya diriku ditinggalkan seorang diri
Padahal sebentar lagi cintaku kan tersampaikan
Pasti kan segera lepas, ku jadi ingin mengejarnya

I Love you baby baby baby, kau idola diriku
Kehadiranmu bersinar dengan terangnya
Keajaiban bertemu denganmu, ku jadi tahu arti dari hidup

I Love you baby baby baby, ku ingin memelukmu
Dengan benar berikan cahaya musim panas
Kita bagaikan sepasang kekasih, suatu saat di dalam mimpi

I Love you baby baby baby, alihkanlah padaku
Pandangan kepada seseorang itu
Sadarilah ketukan dari diriku
Ku ingin jawaban dari rasa sayang

I Love you baby baby baby, tersenyumlah padaku
Bibir yang membuatku menjadi terpikat
Biarkanlah ku miliki dirimu walau hanya di dalam mimpi

SUNGAI TANPA MUARA


Elok senyum ayah sulit kulupa
Gagah tegap langkah ayah menapak penuh asa
Indah binar mata ayah pancarkan sinar penuh doa
Katakan “nak, kamu bisa”

Yakinnya derap langkah ayah
Obat penyirna rasa ragu ‘tuk melangkah
Jalan demi jalan dilaluinya
Asa demi asa t’rus digapainya
Nyanyian lelah tak pernah dilantunkannya
Alunan semangatlah yang selalu didendangnya

Elok nian senyum sang rembulan
Saksi bisu bukti taqwa ayah pada – Nya
Iringan dzikir dalam harap terlantun merdu
Kiranya ini harap akan hadirku

Yakinnya derap langkah ayah
Obat penyirna rasa ragu ‘tuk melangkah
Tapak demi tapak dilaluinya
Mimpi demi mimpi t’rus digapainya
Nilai hidup tersirat jelas darinya
Indahnya hidup hadir bersama
Gemercik peluh tanpa muara